Kamis, 25 September 2014

Sejarah seni tembang sasak


 
Di setiap daerah atau pulau di Indonesia ini mempunyai kekhususan dalam memiliki kesenian atau seni suara, termasuk tembangnya.
Untuk masyarakat sasak seni suara itu diwujudkan dengan bermacam-macam cara, yang biasanya untuk menyampaikan isi hatinya kepada orang lain. Ada yang berbentuk “Lelakaq” (semacam bentuk pantun), yang dikeluarkan secara bernyayi. Ada juga yang berbentuk “Lawas” lawas ialah semacam bentuk tembang, yang ditembangkan untuk menghibur diri. Sedangkan lelaka biasanya dipergunakan dalam kesempatan pertemuanantara muda-mudi, yang isinya untuk menyamapikan hasrat hati kepada lawan jenisnya. Sindir-menyindir, dengan tujuan untuk memikat yang dapat menggugah rasa gairah masing-masing untuk memadu cinta. Penggunaan lelaka atau gurindam dilakukan pada kesempatan waktu selamatan, sambil memasak nasi atau waktu panen, mana kumpul para pemuda-pemudi. Lelakaq ini biasanya terdiri dari empat bait, yang lagunya berulang-ulang, tapi isinya dapat berlainan sesuai dengan maksud hati yang bersangkutan.
Lawas ini kemudian berkembang berkembang dengan masuknya seni tembang dari luar yaitu dari Jawa dan Bali, yang bentuknya dalam bermacam-macam langgam dengan nama-nama tertentu ada yang berbentuk cerita dan lain-lain, yang sangat terpengaruh atas seni tembnag Lombok, adalah cerita wayang, dalam buku serak menak, masuk kira-kira pertengahan abad ke 19 yang dikarang oleh Raden Panja Jaya Subrata, yaitu cerita pewayangan, berbentuk tembang, terdiri dari tuju jilid, dengan memakai aksara jawa karena ceritanya bernafaskan islam, tentang perjalanan hidup seorang pahlawan islam, Jaya Rana yang terkenal di Lombok dengan nama Amir Hamzah, yang terus menerus menaklukkan setiap negara dan mengembangkan agama ibrahim (Islam).
Buku ini cepat sekali menjangkau sampai desa-desa, dan tembangnya dipelajari, demikian pula hurufnya yaitu huruf Jejawen banyak juga orang-orang yang sudah pandai membaca dan menulis huruf Jejawen lalu membuat turunan akan cerita Amir Hamzah itu ke dalam Lomtar. Dapat dibuktikan bahwa Lontar-lontar yang masih ada sekarang tersebar di Lombok, yang banyak diperjual belikan oleh orang-orang asing, sebagian besar adalah transkirp dari buku Serak Menak, yaitu cerita pewayangan. Bentuk certita dalam pedalangan, yang mula mempertunjukan cerita legenda berubah hampir seluruhnya berbentuk cerita Amir Hamzah. Selain cerita ini dibawakan dalam pedalangan, juga dibawa dalam tembang, setiap kesempatan adanya selametan,  diadakan pembacaan cerita itu, berbentuk ditembangkan, sedangkan bahasanya pun dipelajari dan banyak sekali orang-orang yang mengerti, terutam,a orang-orang tua sekarang, masih menguasai akan tulisan dan bahasanya. Dapat disimpulkan bahwa generasi lahir antara tahun 1925 sampai tahun 1935 masih dapat dinikmati akan seni tembang sasak. Sedangkan orang yang lahir sesudah itu, kecuali ia khusus mempelajarinya, tidak akan dapat menghayatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar