Di setiap daerah atau pulau di Indonesia
ini mempunyai kekhususan dalam memiliki kesenian atau seni suara, termasuk
tembangnya.
Untuk masyarakat sasak seni suara itu
diwujudkan dengan bermacam-macam cara, yang biasanya untuk menyampaikan isi
hatinya kepada orang lain. Ada yang berbentuk “Lelakaq” (semacam bentuk pantun), yang dikeluarkan secara bernyayi.
Ada juga yang berbentuk “Lawas” lawas ialah semacam bentuk tembang, yang
ditembangkan untuk menghibur diri. Sedangkan lelaka biasanya dipergunakan dalam
kesempatan pertemuanantara muda-mudi, yang isinya untuk menyamapikan hasrat
hati kepada lawan jenisnya. Sindir-menyindir, dengan tujuan untuk memikat yang
dapat menggugah rasa gairah masing-masing untuk memadu cinta. Penggunaan lelaka
atau gurindam dilakukan pada kesempatan waktu selamatan, sambil memasak nasi
atau waktu panen, mana kumpul para pemuda-pemudi. Lelakaq ini biasanya terdiri
dari empat bait, yang lagunya berulang-ulang, tapi isinya dapat berlainan
sesuai dengan maksud hati yang bersangkutan.
Lawas ini kemudian berkembang berkembang
dengan masuknya seni tembang dari luar yaitu dari Jawa dan Bali, yang bentuknya
dalam bermacam-macam langgam dengan nama-nama tertentu ada yang berbentuk
cerita dan lain-lain, yang sangat terpengaruh atas seni tembnag Lombok, adalah
cerita wayang, dalam buku serak menak, masuk kira-kira pertengahan abad ke 19
yang dikarang oleh Raden Panja Jaya Subrata, yaitu cerita pewayangan, berbentuk
tembang, terdiri dari tuju jilid, dengan memakai aksara jawa karena ceritanya bernafaskan
islam, tentang perjalanan hidup seorang pahlawan islam, Jaya Rana yang terkenal
di Lombok dengan nama Amir Hamzah, yang terus menerus menaklukkan setiap negara
dan mengembangkan agama ibrahim (Islam).
Buku ini cepat sekali menjangkau sampai
desa-desa, dan tembangnya dipelajari, demikian pula hurufnya yaitu huruf Jejawen banyak juga orang-orang yang
sudah pandai membaca dan menulis huruf Jejawen
lalu membuat turunan akan cerita Amir Hamzah itu ke dalam Lomtar. Dapat
dibuktikan bahwa Lontar-lontar yang masih ada sekarang tersebar di Lombok, yang
banyak diperjual belikan oleh orang-orang asing, sebagian besar adalah
transkirp dari buku Serak Menak, yaitu cerita pewayangan. Bentuk certita dalam
pedalangan, yang mula mempertunjukan cerita legenda berubah hampir seluruhnya
berbentuk cerita Amir Hamzah. Selain cerita ini dibawakan dalam pedalangan,
juga dibawa dalam tembang, setiap kesempatan adanya selametan, diadakan pembacaan cerita itu, berbentuk
ditembangkan, sedangkan bahasanya pun dipelajari dan banyak sekali orang-orang
yang mengerti, terutam,a orang-orang tua sekarang, masih menguasai akan tulisan
dan bahasanya. Dapat disimpulkan bahwa generasi lahir antara tahun 1925 sampai
tahun 1935 masih dapat dinikmati akan seni tembang sasak. Sedangkan orang yang
lahir sesudah itu, kecuali ia khusus mempelajarinya, tidak akan dapat
menghayatinya.
